Materi Ajar: Menilai Relevansi Teks (Koneksi Diri)

Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia

Fase / Kelas: C / VI (Enam)

Elemen: Membaca dan Memirsa

Kompetensi: Menilai relevansi peristiwa dalam teks dengan kehidupan sehari-hari berdasarkan pengalaman atau pengetahuan pribadi.

A. Memahami: Konsep "Jembatan Teks-ke-Diri"

Selamat pagi, anak-anak! Hari ini kita akan belajar keterampilan membaca yang sangat penting. Kita tidak akan hanya membaca tulisan di buku, tapi kita akan belajar menghubungkan tulisan itu dengan diri kita sendiri.

Ini disebut menilai relevansi. Relevansi artinya "keterkaitan" atau "seberapa nyambung" sebuah teks dengan kehidupan kita.

Jika sebuah teks relevan, artinya teks itu penting, bermanfaat, atau mengingatkan kita pada sesuatu yang pernah kita alami atau ketahui.

Konsep Kunci: Relevansi Teks-ke-Diri (Text-to-Self)

Ini adalah "jembatan" yang kita bangun antara peristiwa di dalam teks dengan pengalaman pribadi kita. Saat membaca, kita bertanya:

Cara Menilai Relevansi (Teks-ke-Diri):

Peristiwa di Teks + Pengalaman/Pengetahuan Pribadi = Simpulan Relevansi
(Apakah teks ini "nyambung", bermanfaat, atau memberi pelajaran bagi SAYA?)

B. Mengaplikasikan: Membangun "Jembatan" Relevansi

Mari kita latih cara membangun jembatan "Teks-ke-Diri" dengan dua jenis teks yang berbeda.

1. Aplikasi: Teks Fiksi (Cerita Pendek)

Teks: Aris adalah anak yang cerdas, tapi ia punya kebiasaan buruk menunda-nunda pekerjaan. Suatu hari, ada tugas membuat poster yang harus dikumpul hari Jumat. "Ah, gampang," pikir Aris. Ia baru mulai mengerjakan pada hari Jumat pagi. Tentu saja, hasilnya berantakan dan ia tidak sempat mewarnai. Nilai Aris jelek dan ia menyesal.

Aplikasi (Menilai Relevansi):

  1. Peristiwa di Teks: Aris menunda-nunda (prokrastinasi) dan akhirnya menyesal karena hasilnya buruk.
  2. Pengalaman Pribadi (Mungkin Pengalamanmu): "Saya ingat pernah menunda mengerjakan PR Matematika. Saya baru mengerjakan 10 menit sebelum berangkat sekolah. Hasilnya, saya terburu-buru, jawaban saya banyak yang salah, dan saya ditegur guru."
  3. Simpulan Relevansi: "Peristiwa yang dialami Aris sangat relevan dengan kehidupan saya. Teks ini mengingatkan saya bahwa kebiasaan menunda-nunda (seperti yang pernah saya lakukan) akan selalu berakhir buruk."

2. Aplikasi: Teks Nonfiksi (Artikel)

Teks: "Menjaga kebersihan drainase (saluran air) adalah kunci utama mencegah banjir di musim hujan. Seringkali, saluran air tersumbat oleh sampah plastik dan botol bekas yang dibuang sembarangan. Satu botol plastik yang kita buang bisa menyumbat aliran air dan menyebabkan genangan di lingkungan kita."

Aplikasi (Menilai Relevansi):

  1. Peristiwa/Fakta di Teks: Sampah plastik yang dibuang sembarangan bisa menyumbat saluran dan menyebabkan banjir.
  2. Pengetahuan Pribadi (Mungkin Pengetahuanmu): "Saya tahu bahwa di depan kompleks saya ada got besar. Saya juga tahu bahwa setiap hujan deras, jalan di depan kompleks saya sering tergenang air."
  3. Simpulan Relevansi: "Teks ini sangat relevan. Saya jadi sadar (pengetahuan baru) bahwa genangan air di depan kompleks saya mungkin saja disebabkan oleh sampah. Teks ini relevan karena memberi saya pengetahuan tentang penyebab masalah yang ada di sekitar saya."

C. Bernalar: Menilai "Tingkat" Relevansi (HOTS)

Sekarang, kita akan naik level. Kita tidak hanya bilang "nyambung", tapi kita akan menilai "seberapa" dan "mengapa" teks itu penting bagi kita.

Studi Kasus 1: Relevansi Pesan Moral (Dongeng) (HOTS)

Teks: Cuplikan dongeng "Kancil dan Buaya". Si Kancil (yang cerdik) berhasil menipu buaya-buaya agar berbaris, lalu ia melompat di atas punggung mereka untuk menyeberang sungai.

Pertanyaan (Penalaran): Peristiwa Kancil menipu buaya tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Apakah peristiwa ini masih relevan dengan kehidupanmu? Mengapa?

Penalaran: Relevansi tidak harus dari kejadian fisik. Relevansi bisa diambil dari sifat atau pesan moral.

Aplikasi (Analisis):
1. Peristiwa: Kancil menggunakan kecerdikan untuk menipu (berbohong) demi keuntungan diri sendiri.
2. Pengalaman Pribadi: "Saya pernah ingin main, tapi tidak diizinkan ibu. Saya lalu berbohong bilang mau kerja kelompok (menipu) agar bisa pergi."
3. Simpulan (Jawaban): "Peristiwanya (Kancil menyeberang di atas buaya) tidak relevan secara harfiah. TETAPI, perilakunya (menggunakan kecerdikan untuk berbohong) sangat relevan. Teks ini relevan sebagai peringatan bahwa berbohong (seperti yang pernah saya lakukan) adalah tindakan yang licik dan tidak baik, meskipun kita pintar."

Studi Kasus 2: Relevansi Teks Prosedur (HOTS)

Teks: Sebuah resep berjudul "Cara Membuat Donat Kentang yang Empuk dan Mengembang Sempurna".

Pertanyaan (Penalaran): Teks ini dibaca oleh dua orang.
Ani: Ibunya adalah penjual kue donat.
Budi: Tidak suka donat dan tidak bisa memasak.
Bagaimana kamu menilai tingkat relevansi teks ini bagi Ani dan Budi?

Penalaran: Relevansi itu bersifat pribadi dan subjektif. Satu teks bisa sangat relevan bagi satu orang, dan tidak relevan bagi orang lain.

Aplikasi (Analisis):
1. Bagi Ani: Teks ini sangat relevan. Berdasarkan pengetahuan pribadinya (ibunya jualan donat), teks ini bisa memberi ide baru atau tips agar donat ibunya lebih empuk. Relevansinya bersifat praktis (bisa diterapkan).
2. Bagi Budi: Teks ini tidak relevan. Berdasarkan pengalaman pribadinya (tidak suka donat, tidak bisa masak), teks ini tidak memiliki manfaat langsung baginya. Relevansinya sangat rendah.

Simpulan (Jawaban): Tingkat relevansi sebuah teks bergantung pada pengetahuan dan pengalaman pribadi pembacanya. Teks resep donat sangat relevan bagi Ani, namun tidak relevan bagi Budi.

Studi Kasus 3: Relevansi Latar Cerita (HOTS)

Teks: Cuplikan cerita berlatar kerajaan di masa lalu. "Sang Putri menangis di menara kastil. Ia dilarang oleh Raja untuk bersekolah, karena menurut Raja, tugas Putri hanyalah di dalam istana."

Pertanyaan (Penalaran): Kita tidak hidup di kastil dan tidak punya raja (latar tidak relevan). Apakah peristiwa dalam teks ini masih relevan dengan kehidupan kita di zaman modern?

Penalaran: Latar fisik (kastil) boleh berbeda, tapi isu atau perasaan bisa jadi sama.

Aplikasi (Analisis):
1. Peristiwa: Seorang anak (Putri) dilarang bersekolah oleh orang tuanya (Raja) karena dianggap tidak pantas.
2. Pengetahuan/Pengalaman Pribadi: "Saya tahu di zaman sekarang masih ada beberapa orang tua yang berpikir anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, atau ada anak yang dilarang mengejar cita-citanya (misal jadi musisi) karena dianggap tidak pantif oleh orang tua."
3. Simpulan (Jawaban): "Meskipun latarnya (kastil) tidak relevan, peristiwa (konflik antara anak dan orang tua mengenai pendidikan/cita-cita) masih sangat relevan. Teks ini relevan karena membahas isu tentang kesetaraan hak pendidikan dan impian anak yang masih terjadi sampai sekarang."